Pages

Sabtu, 07 September 2013

DAKWAH KAMI

KETERUSTERANGAN
Kami ingin berterus terang kepada semua orang tentang tujuan kami,
memaparkan dihadapan mereka metode kami, dan membimbing mereka menuju
dakwah kami. Di sini tidak ada yang samara dan remang-remang. Semuanya terang.
Bahkan lebih terang dari dari sinar mentari, lebih carah dari cahaya fajar, dan lebih
benderang dari putihnya siang.

KESUCIAN
Kami juga ingin agar umat kami –dan kaum muslimin semua adalah umat kami–
mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin membawa misi dakwah yang bersih dan suci;
bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu. Ia
terus berlalu menapaki jalan panjang kebenaran yang telah digariskan Allah swt. Dalam
firman-Nya,
"Katakanlah, 'inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku
mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata.' Mahasuci Allah, dan aku
tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (Yusuf : 108)
Kami tidak mengaharapkan sesuatu pun dari manusia; tidak mengharap harta
benda atau imbalan yang lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima
kasih. Yang kami harap hanyalah pahala dari Allah, Dzat yang telah menciptakan kami.

KASIH SAYANG
Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai
dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai
penebus bagi kehoramatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau
menjadi cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang
membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,
mengusai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur
dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan
dan pasrah oleh keputusasaan.
Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia,
lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah
milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi
musuh kalian.

SEMUA KEUTAMAAN HANYALAH MILIK ALLAH
Andaikan yang kami lakukan ini adalah sebuah keutamaan, maka kami sama
sekali tidak menganggap itu keutamaan diri kami. Kami hanya percaya pada firman
Allah swt.,
"Sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan
menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-
Hujurat: 17)
Kami sering mengangankan –andaikan angan-angan itu bermanfaat– bahwa
suatu saat tersingkaplah isi hati kami dihadapan penglihatan dan pendengaran umat ini.
Kami hanya ingin mereka menyaksikan sendiri: adakah sesuatu dalam hati ini selain
kecintaan yang tulus, rasa kasih yang dalam, serta kesungguhan kerja guna
mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi mereka ? Adakah sesuatu dalam hati ini
selain lara dan perih atas musibah yang menimpa mereka?
Namun biarlah, cukup bagi kami keyakinan bahwa Allah swt. mengetahui itu
semua. Hanya Dia-lah yang menanggung kami dengan bimbingan-Nya dalam langkahlangkah
kami. Di tangan-Nya-lah berada semua kunci dan kendali hati manusia. Siapa
yang ia sesatkan maka tak akan ada yang dapat menunjukinya, dan siapa yang ia tunjuki
maka tak akan ada yang dapat menyesatkannya. Cukuplah Dia bagi kami. Dia-lah
sebaik-baik tempat bergantung. Bukankah hanya Allah yang mencukupi kekurangan
hamba-Nya?

EMPAT GOLONGAN OBYEK DAKWAH
Kami hanya ingin agar kelak –dalam mensikapi dakwah kami– orang akan
masuk ke dalam salah satu dari empat golongan berikut:
Pertama, Golongan MukminMereka adalah orang-orang yang meyakini kebenaran dakwah kami, percaya
kepada perkataan kami, mengagumi prinsip-prinsip kami, dan menemukan padanya
kebaikan yang kebaikan yang menenangkan jiwanya. Kepada orang seperti ini kami
mengajak untuk segera bergabung dan bekerja bersama kami agar jumlah para mujahid
semakin banyak, dan agar dengan tambahan suara mereka, suara para da'i akan semakin
meninggi.
Iman takkan punya arti bila tidak disertai dengan amal. Akidah tak akan
memberi faedah bila tidak mendorong penganutnya untuk berbuat dan berkorban demi
menjelmakannya menjadi kenyataan. Begitulah yang terjadi pada generasi terdahulu
umat ini, dimana Allah melapangkan dada mereka untuk menerima hidayah-Nya.
Mereka mengikuti jejek para Nabinya, beriman kepada risalahnya, dan berjihad dengan
jihad yang benar dalam menegakkan misi suci itu. Kami berharap agar Allah swt.
Berkenan memberikan pahala yang banyak kepada para pendahulu ini, ditambah dengan
pahala orang-orang yang mengikuti jejek mereka, tanpa mengurangi pahala orang yang
mengikuti itu.
Kedua, Golongan orang yang ragu-raguBoleh jadi mereka orang-orang yang belum mengetahui secara jelas hakekat
kebenaran dan belum mengenal makna keikhlasan serta manfaat di balik ucapan-ucapan
kami. Mereka bimbang dan ragu. akan halnya golongan ini, biarkanlah mereka bersama
keraguannya, sembari disarankan agar mereka tetap berhubungan dengan kami lebih
dekat lagi, membaca tulisan-tulisan kami dan apa saja yang terkait dengan kami –baik
dari jauh maupun dari dekat–, mengunjungi klub-klub kami, dan berkenalan dengan
saudara-saudara kami. Setelah itu, isnya Allah hati mereka akan tentram dan dapat
menerama kami. Begitulah juga tabiat golongan manusia peragu, yang menjadi pengikut
para rasul zaman dahulu.
Ketiga, Golongan yang Mencari KeuntunganBoleh jadi mereka adalah kelompok yang tidak ingin memberikan dukungan
kepada kami sebelum mereka mengetahui keuntungan materi yang dapat mereka
peroleh sebagai imbalannya. Kepada mereka ini kami hanya ingin mengatakan,
"Menjauhlah! Disini hanya ada pahala dari Allah jika kamu memang benar-benar ikhlas,
dan surga-Nya jika ia melihat ada kebaikan dalam hatimu. Adapun kami, kami adalah
orang-orang yang miskin harta dan popularitas. Semua yang kami lakukan adalah
pengorbanan dengan apa yang ada di tangan kami dan dengan segenap kemampuan
yang ada pada kami, dengan harapan bahwa Allah akan meridhai. Dia-lah sebaik-baik
Pelindung dan sebaik-baik Penolong."
Bila kelak Allah menyikap tabir kegelapan dari hati mereka dan menghilangkan
kabut keserakahan dari jiwanya, niscaya meraka akan tahu bahwa sesungguhnya apa
yang ada disisi Allah itu jauh lebih baik dan lebih kekal. Kami percaya, hal itu akan
mendorongnya bergabung dengan barisan Allah. Saat itu, dengan segala kemurahan hati
mereka akan mengorbankkan seluruh hartanya demi memperoleh balasan Allah di
akhirat kelak. Apa yang ada padamu (manusia) akan habis musnah, dan apa yang ada di
sisi Allah akan abadi. Andaikan tidak demikian, sungguh Allah tidak membutuhkan
orang yang tidak melihat bahwa hak Allah-lah yang pertama harus ditunaikan, pada diri,
harta, dunia, akhirat, hidup, dan matinya. Begitulah yang pernah terjadi, ketika
sekelompok orang enggan berba'iat kepada Rasulullah saw. Kecuali jika nantinya beliau
berkenan memberikan porsi kekuasaan setelah Islam menang. Pada waktu itu
Rasulullah saw. Hanya menyatakan bahwa bumi ini adalah milik Allah, yang ia
wariskan kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya
kemenangan akhir selalu menjadi milil orang-orang yang bertaqwa.
Keempat, Golongan yang Berprasangka BurukBarangkali mereka adalah orang-orang yang selalu berprasangka buruk kepada
kami dan hatinya diliputi keraguan atas kami, mereka selalu melihat kami dengan
kacamata hitam pekat, dan tidak berbicara tentang kami kecuali dengan pembicaraan
yang sinis. Kecingkakan telah mendorong mereka terus berada pada keraguan,
kesinisan, dan gambaran negatif tentang kami.
Bagi kelompok macam ini, kami bermohon kepada Allah swt., agar berkenan
memperlihatkan kepada kami dan kepada mereka kebenaran sebagai kebenaran dan
memberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya, serta memperlihatkan kebatilan
sebagai kebatilan dan memberi kekuatan kepada kami untuk menjauhinya. Kami
memohon kepada Allah swt. Agar berkenan menunjuki kami dan mereka ke jalan yang
lurus.
Kami akan selalu mendakwahi mereka jika mereka mau menerima, dan kami
juga berdoa kepada Allah swt. Agar berkenan menunjuki mereka. Memang, hanya
Allah-lah yang dapat menunjuki mereka. Kepada Nabi-Nya Allah berfirman tentang
segolongan manusia,
Sesunguhnya, kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang kamu
suka, akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang ia kehendaki." (Al-
Qashash: 56).
Walaupun begitu, kami tetap mencintai mereka dan berharap bahwa suatu saat
mereka akan sadar dan percaya pada dakwah kami. Terhadap mereka kami
menggunakan semboyan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.,
"Ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
Kami menginginkan ada salah satu dari keempat golongan tadi yang bergabung
bersama kami. Kini tiba saatnya bagi setiap muslim untuk memahami tujuan hidupnya
dan menentukan arah perjalanannya. Ia harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk
menempuh jalan tersebut agar dapat mencapai tujuannya. Adapun mereka yang lalai dan
terus dalam kebingungan, yang suka bersantai-santai, yang hatinya buta dan gampang
terbujuk oleh rayuan, maka tidak ada tempat bagi mereka di jalan panjang orang-orang
yang beriman.

MELEBUR
Di samping itu, umat Islam harus mengetahui bahwa beban dakwah ini hanya
dapat dipikul oleh mereka yang telah memahami dan bersedia memberikan apa saja
yang kelak dituntut olehnya; baik waktu, kesehatan, harta, bahkan darah.
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, sanak
keluargamu, harta yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu takuti kerugiannya,
rumah-rumah kediaman yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-
Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
adzab-Nya. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaun yang dzalim."
(At-Taubah: 24)
Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap totalitas.
Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun
melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barang siapa yang lemah dalam memikul beban ini,
ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang dudukduduk.
Lalu Allah swt. akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik
dan sanggup memikul beban dalwah ini. Allah swt. berfirman tentang mereka,
"…yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap
keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut
kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang ia berikan kepada
siapa yang dikehendaki." (Al-Maidah: 54)

KEJELASAN
Kami mengajak manusia kepada suatu ideologi. Ideologi yang jelas, definitif,
dan aksiomatik. Sebuah ideologi yang mereka semua telah mengenalnya, beriman
padanya, dan percaya akan kebenarannya. Mereka juga tahu bahwa ideologi itu
merupakan jalan menuju pembebasan, kebahagiaan, dan ketenangan dalam kehidupan
ini. Sebuah ideologi yang telah dibuktikan oleh pengalaman dan disaksikan oleh sejarah
akan keabadian dan kelailannya dalam menata dan menyejahterakan kehidupan
manusia.

DUA IMAN
Pada dasarnya baik kami maupun umat kami sama-sama beriman dan meyakini
kebenaran ideologi itu. Yang membedakan kami dengan mereka adalah bahwa iman
pada diri mereka itu tertidur lelap, dan karenanya tidak mempunyai daya dorong yang
kuat yang dapat membuat mereka mau melaksanakan segala konsekwensi keimanan
tersebut. Tapi sebaliknya, iman itu terasa begitu kuat, penuh elan vital, dan senantiasa
menggelora dalam jiwa Ikhwanul Muslimin.
Ada sebuah gejala psikologis aneh di kalangan orang-orang Timur –yang
dirasakan orang banyak dan juga kita rasakan– bahwa kita sering menggambarkan
keyakinan kita terhadap suatu ideologi kepada orang lain, dengan ekspresi yang kadang
membuat mereka percaya bahwa dengan keyakinan itu kita mampu menghancurkan
gunung, mengarungi lautan, dan melintasi seluruh marabahaya yang menentang kita,
sampai ideologi itu menang bersama kita dan kita menang bersamanya. Tetapi ketika
gelora retorika itu mulai surut, tiba-tiba saja semua kita lupa dan lalai pada ideologi itu.
Tak seorang pun yang berpikir bagaimana merealisasikan ideologi itu dan berjihad
membelanya, bahkan dengan selemah-lemahnya jihad sekalipun. Sadar atau tidak sadar,
kelengahan dan kelalaian itu terkadang bahkan sampai mendorong sebagian kita untuk
melakukan tindakan yang memusuhi ideologi itu. Dalam banyak kesempatan kita sering
dibuat terbawa bingung, melihat seorang tokoh pemikir atau budayawan, yang suatu
saat dia bersikap atheis lalu tiba-tiba dia bisa menjadi seorang yang sangat agamis.
Inilah kelengahan, kealpaan, ketaksadaran, kerapuhan dan keterlelapan yang
panjang -atau apa saja sebutan yang tepat yang mendorong kami untuk menghidupkan
kembali 'ideologi' itu. Sekalipun sebenarnya umat –yang kami cintai ini– telah lama
mempercayai dan meyakininya.

SERUAN-SERUAN
Saya ingin kembali kepada awal pembicaraan. Saya ingin mengatakan bahwa
dakwah Ikhwanul Muslimin adalah seruan kepada suatu ideologi. Kini, baik di Barat
maupun di Timur, kita menyaksikan amukan badai dari berbagai ideologi, isme, dan
aliran pemikiran yang saling berpacu untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan
khalayak. Dengan berbagai promosi dan yel-yel –walaupun terkadang tampak norak dan
berlebihan– mereka mengekspos isme-isme yang diyakininya sedemikian rupa dalam
suatu kemasan yang membuatnya tampak menarik dan penuh pesona.

SANG PENYERU
Para penyeru isme-isme sekarang berbeda dengan masa-masa sebelum ini.
Mereka kini —khususnya di negara-negara Barat— tampil lebih intelek, lebih
profesional, dan lebih terlatih. Kini setiap isme didukung oleh perangkat sumber daya
manusia yang sangat terlatih dan setiap saat bekerja mengkampanyekan dan
mempromosikan paham yang diyakininya. Setiap saat mereka berusaha menemukan
berbagai sarana sosialisasi dan provokasi serta mencari metode paling efektif untuk
mempengaruhi massa.

SARANA UNTUK MENYERU
Sarana-sarana propaganda saat ini pun berbeda dengan sebelumnya. Kemarin,
propaganda disebarkan melalui khutbah, pertemuan atau surat menyurat. Tapi sekarang
seruan atau propaganda kepada isme-isme itu disebarkan melalui penerbitan majalah,
koran, film, panggung teater, radio dan media-media lain yang beragam. Sarana-sarana
itu telah berhasil menembus semua jalan menuju akal dan hati khalayak, baik pria
maupun wanita, di rumah-rumah, di toko-toko, di pabrik-pabrik, bahkan di sawahsawah
mereka.
Maka adalah wajb bagi para pengemban missi dakwah ini untuk (juga)
menguasai semua sarana tersebut agar dakwah mereka membuahkan hasil yang
memuaskan.
Saya akan kembali mengatakan bahwa dunia kini sedang diharu-biru oleh
berbagai isme. Ada yang bernuansa politik, ekonomi, militer, nasionalisme, ada yang
mengatasnamakan perdamaian, dan sebagainya. Lalu di manakah posisi Ikhwanul
Muslimin dalam percaturan antar berbagai isme tersebut? Jawaban terhadap pertanyaan
itu akan membawa saya untuk membicarakan dua masalah. Pertama, tentang kerangka
positif normatif dakwah kami. Kedua, tentang sikap dakwah kami terhadap seruan dan
propaganda dari isme-isme tersebut.
Saya berharap bahwa anda tidak akan menyalahkan jika kata-kata saya nantinya
mengalir panjang. Sebab saya telah berjanji kepada diri sendiri untuk menulis dengan
cara seperti ketika saya berbicara dan membahas tema ini dengan gaya tersebut, dengan
gaya pembahasan yang ringan dan tanpa beban. Dengannya saya hanya ingin agar orang
dapat memahami saya sebagaimana saya adanya, dan agar ucapan saya masuk ke dalam
jiwa mereka secara utuh, tidak terpotong-potong.

ISLAM KAMI
Dengarlah wahai saudaraku!
Dakwah kami adalah dakwah yang hanya dapat dilukiskan secara integral oleh
kata 'lslamiyah'. Kata (islamiyah) ini mempunyai makna yang sangat luas, tidak
sebagaimana yang dipahami secara sempit oleh sebagian orang. Kami meyakini bahwa
Islam adalah sebuah sistem nilai yang komprehensif, mencakup seluruh dimensi
kehidupan. Dia memberi petunjuk bagi kehidupan manusia dalam semua aspeknya, dan
menggariskan formulasi sistemik yang akurat tentang hal itu. la sanggup memberi solusi
atas berbagai masalah vital dan kebutuhan akan berbagai tatanan untuk mengangkat
harkat kehidupan manusia.
Sebagian orang memahami secara salah bahwa Islam itu terbatas pada berbagai
ritual ibadah yang bersifat rohaniyah saja. Karenanya mereka hanya mengungkung diri
dalam pemahaman yang sempit itu. Dan kami tidak ingin memahami Islam dengan cara
yang sempit seperti itu. Kami memahami Islam secara integral, mencakup dimensi
kehidupan dunia dan akhirat. Ini bukanlah klaim yang kami buat-buat. Tetapi memang
itulah yang kami pahami dari Kitab Allah dan hasil napak tilas kami kepada generasi
terdahulu Islam. Jika di antara pembaca ada yang ingin memahami dakwah Ikhwanul
Muslimin lebih luas dari apa yang tercakup dalam kata 'lslamiyah', hendaklah mereka
memegang Kitab Suci Al-Qur’an, membersihkan dirinya dari hawa nafsu dan berbagai
ambisi, kemudian memahami ayat-ayat Qur'an sebagaimana ia adanya. Di sanalah ia
akan menemukan muatan dan hakekat dakwah Ikhwanul Muslimin.
Dakwah kami memang islamiyah, dengan segala makna yang tercakup dalam
kata itu. Pahamilah apa saja yang ingin anda pahami dari kata itu dengan tetap
berpedoman pada Kitab Allah, Sunah Rasulllah saw. dan sirah salafus shalih (jalan
hidup pendahulu yang shalih) dari kaum muslimin. Kitab Allah adalah sumber dasar
Islam, Sunah Rasulullah saw. adalah penjelas dari kitab tersebut, sedang sirah kaum
Salaf adalah contoh aplikatif dari perintah Allah dan ajaran Islam.

SIKAP KAMI TERHADAP BERBAGAI ISME
Bagi kami, berbagai isme yang kini merajalela, yang telah mencentang
perenangkan hati dan mengacaubalaukan pikiran, haruslah dilihat dengan prespektif
dakwah kami. Apa yang sesuai dengan dakwah kami pasti akan kami setujui pula. Dan
kami akan membersihkan diri dari seraua yang bertentangan dengannya. Kami percaya
bahwa dakwah kami bersifat universal dan intergral. Tidak ada sisi baik yang ada pada
sebuah isme (isme apapun), melainkan ia pasti ada juga pada dakwah kami, dan kami
menyeru kepadanya.
Berikut ini adalah isme-isme yang bertebaran di muka bumi dan sikap kami
terhadap masing-masing mereka:

Nasionalisme
Kini banyak orang terpesona dengan seruan Nasionalisme atau paham
kebangsaan, khususnya di kalangan masyarakat negeri Timur. Bangsa-bangsa Timur
menganggap bahwa Barat telah melecehkan keberadaan, merendahkan martabat, dan
merampas kemerdekaan mereka. Bukan hanya itu, Barat juga telah mengeksploitasi
harta kekayaan mereka dan menghisap darah putera-putera terbaiknya. Imperialisme
dan kolonialisme Barat yang memaksakan kehendaknya telah membuat jiwa bangsabangsa
Timur terluka. Itulah yang membuat mereka berusaha membebaskan diri dari
cengkraman Barat dengan segala daya, keuletan, ketegaran, dan kekuatan yang
dimilikinya dalam rentang perjuangan yang demikian panjang. Dari sanalah kemudian
para pemimpin, pemikir, penulis, orator dan wartawan menyerukan gaung pembebasan
atas nama Nasionalisme dan kebangsaan. Tentu saja yang demikian itu baik dan indah.
Tapi menjadi tidak baik dan tidak indah, manakala anda mengatakan kepada mereka
(bangsa Timur) —yang nota bene mayoritas muslim— bahwa “Apa yang ada dalam
Islam dalam hal ini jauh lebih mulia dibanding apa yang sering digembar-gemborkan
oleh orang-orang Barat," tiba-tiba saja mereka enggan dan bahkan semakin membabi
buta dalam berpegang pada fanatisme kebangsaannya. Mereka menganggap bahwa
Islam berada di satu sisi, sementara prinsip Nasionalisme yang mereka yakini ada di sisi
yang lain yang berseberangan antara keduanya. Sebagian mereka bahkan menganggap
bahwa seruan kepada Islam itu justru akan memecah-belah persatuan bangsa dan
melemahkan ikatan antar warganya.
Pemahaman yang salah ini tentu saja berbahaya bagi bangsa-bangsa Timur
ditinjau dari sisi mana pun. Itulah sebabnya saya ingin menjelaskan sikap Ikhwanul
Muslimin terhadap Nasionalisme. Suatu sikap yang telah mereka ridhai bagi diri-diri
mereka, dan mereka berusaha membuat orang lain meridhainya sebagai sikap yang
sama dengan mereka.

Nasionalisme Kerinduan
Jika yang dimaksud dengan Nasionalisme oleh para penyerunya adalah cinta
tanah air, keberpihakan padanya dan kerinduaan yang terus menggebu terhadapnya,
maka hal itu sebenarnya sudah tertanam dalam fitrah manusia. Lebih dari itu Islam juga
menganjurkan yang demikian. Sesungguhnya Bilal yang telah mengorbankan segalanya
demi aqidahnya, adalah juga Bilal yang suatu ketika di negeri Hijrah menyenandungkan
bait-bait puisi kerinduan yang tulus terhadap tanah asalnya, Mekkah.
O, angan,
masihkah mungkin 'kan kulalui malam
pada lembah dan ada Izkhir mengitariku, juga Jalil
Masihkah mungkin kutandan gemercik air Mijannah
Atau Syamah menampak bagiku, jugaThafii
Pernah suatu ketika Rasulullah saw. mendengarkan untaian sajak tentang
Mekkah dari Ashil, dan tiba-tiba saja butir-butir air mata beliau bercucuran di celah
pipinya. Kerinduan kepada Mekkah tampak jelas di permukaan wajahnya. Kemudian
beliau saw. berucap, "Wahai Ashil biarkan hati ini tenteram. "
Nasionalisme Kehormatan dan Kebebasan
Jika yang mereka maksudkan dengan Nasionalisme adalah keharusan berjuang
membebaskan tanah air dari cengkeraman imperialisme, menanamkan makna
kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-putera bangsa, maka kami pun sepakat
tentang itu. Islam telah menegaskan perintah itu dengan setegas-tegasnya. Lihatlah
firman Allah swt.,
"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi
orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (AIMunafiqun:
8)
".Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir
untuk memusnahkan orang-orang beriman." (An-Nisa': 141)
Nasionalisme Kemasyarakatan
Jika yang mereka maksudkan dengan Nasionalisme adalah memperkuat ikatan
kekeluargaan antara anggota masyarakat atau warga negara serta menunjukkan kepada
mereka cara-cara memanfaatkan ikatan itu untuk mencapai kepentingan bersama, maka
di sini pun kami sepakat dengan mereka. Islam bahkan menganggap itu sebagai
kewajiban. Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. bersabda,
"Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang saling bersaudara." Lihat pula
bagaimana Allah swt. berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman
kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa
yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa
yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami
terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (Ali Imran:
119)

Nasionalisme Pembebasan
Jika yang mereka maksudkan dengan Nasionalisme adalah membebaskan
negeri-negeri lain dan menguasai dunia, maka itu pun telah diwajibkan oleh Islam.
Islam bahkan mengarahkan para pasukan pembebas untuk melakukan pembebasan yang
paling berbekas. Renungilah firman Allah swt. berikut,
"Dan perangilah mereka itu, sehingga tak ada fitnah lagi dan (sehingga)
ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah." (Al-Baqarah: 193)

Nasionalisme Kepartaian
Tapi jika yang mereka maksudkan dengan Nasionalisme itu adalah memilah
umat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan dan berseteru satu sama
lain, mengikuti sistem-sistem nilai buatan manusia yang diformulasi sedemikian rupa
untuk memenuhi ambisi pribadi —sementara musuh mengeksploitasi masyarakat untuk
kepentingan mereka dan berusaha untuk terus menyalakan api permusuhan sehingga
umat berpecah-belah dalam kebenaran dan hanya bisa bersatu dalam kebatilan, sampai
umat tidak bisa menikmati buah persatuan dan kerjasama, bahkan mereka hanya ibarat
menghancurkan rumah yang telah dibangunnya sendiri— maka itu pasti Nasionalisme
palsu yang tidak akan membawa secuil pun kebaikan, baik bagi penyerunya maupun
bagi masyarakat luas.
Sekarang anda dapat melihat betapa kami berjalan seiring dengan para tokoh
penyeru Nasionalisme, bahkan dengan kalangan radikal di antara mereka. Kami sepakat
dengan mereka terhadap Nasionalisme dalam semua maknanya yang baik dan dapat
mendatangkan manfaat bagi manusia dan tanah airnya. Sekarang anda juga telah
melihat, betapa paham Nasionalisme dengan slogan dan yel-yel panjangnya, tidak lebih
dari kenyataan bahwa ia merupakan bagian sangat kecil dari keseluruhan ajaran Islam
yang agung.

Batasan Nasionalisme Kami
Yang membedakan kami dengan mereka adalah bahwa batasan Nasionalisme
bagi kami ditentukan oleh aqidah, sementara pada mereka batasan paham itu ditentukan
oleh teritorial wilayah negara dan batas-batas geografis. Bagi kami, setiap jengkal tanah
di bumi ini, di mana di atasnya ada seorang Muslim yang mengucapkan 'Laa Ilaaha
Illallah', maka itulah tanah air kami. Kami wajib menghormati kemuliaannya dan siap
berjuang dengan tulus demi kebaikannya. Semua Muslim —dalam wilayah geografi
yang mana pun— adalah saudara dan keluarga kami. Kami turut merasakan apa yang
mereka rasakan dan memikirkan kepentingan-kepentingan mereka.
Sebaliknya, bagi kaum nasionalis (fanatik), semua orang yang ada di luar batas
tanah tumpah darahnya sama sekali tidak dipedulikan. Mereka hanya mengurus semua
kepentingan yang terkait langsung dengan apa yang ada di dalam batas wilayahnya.
Secara aplikatif perbedaan akan tampak lebih jelas ketika sebuah bangsa hendak
memperkuat dirinya dengan cara yang merugikan bangsa lain. Kami sama sekali tidak
membenarkan itu untuk diterapkan di atas sejengkal pun dari tanah air Islam. Kami
menginginkan kekuatan dan kemaslahatan untuk semua bangsa-bangsa Muslim.
Sementara kaum Nasionalis menganggap yang demikian itu (fanatisme kebangsaan)
sebagai suatu kewajaran. Paham demikian inilah yang kemudian membuat ikatan di
antara kita menjadi renggang dan kekuatannya pun melemah hingga musuh
mendapatkan kesempatan emas untuk menghancurkan kita melalui tangan saudara kita
sendiri.

Tujuan Nasionalisme Kami
Berikutnya, kaum Nasionalis hanya berpikir untuk membebaskan negerinya.
Dan bila kemudian mereka membangun negeri mereka, mereka hanya memperhatikan
aspek-aspek fisik seperti yang kini terjadi di daratan Eropa. Sebaliknya, kami percaya
bahwa di leher setiap Muslim tergantung amanah besar untuk mengorbankan seluruh
jiwa dan raga serta hartanya demi membimbing manusia menuju cahaya Islam. Setiap
Muslim harus mengangkat bendera Islam setinggi-tingginya di setiap belahan bumi;
bukan untuk mendapatkan harta, popularitas dan kekuasaan atau menjajah bangsa lain,
tapi semata-mata untuk memperoleh ridha Allah dan memakmurkan dunia dengan
bimbingan agamanya. Itulah yang mendorong kaum Salaf yang saleh —semoga Allah
meridhai mereka semua— untuk melakukan pembebasan-pembebasan suci yang telah
mencengangkan dunia dan mempesonakan sejarah; dengan kecepatan gerak, keadilan,
dan keluhuran akhlaknya..

Persatuan
Saya juga ingin mengingatkan anda tentang betapa rapuhnya klaim yang
mengatakan bahwa seruan kepada Islam hanya merusak persatuan bangsa yang terdiri
dari berbagai aliran dan agama. Sesungguhnya Islam —sebagai agama persatuan dan
persamaan— telah menjamin kekuatan ikatan itu selama masyarakat tetap tolongmenolong
dalam kebaikan dan taqwa. Lihatlah firman Allah swt.,
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berlaku adil." (AI-Mumtahanah: 8)
Lantas dari manakah datangnya perpecahan itu ?
Kini –sekali Iagi– anda dapat melihat betapa kami seiring dan sejalan dengan
kalangan Nasionalis, bahkan yang paling radikal dari mereka sekalipun. Kami seiring
dan sejalan dalam mencintai segala kebaikan bagi tanah air dan berjuang untuk
membebaskannya, dan membangun serta memajukannya. Kami mendukung semua
pihak yang bekerja untuk itu semua dangan tulus.
Lebih dari itu, kami juga ingin agar anda tahu, kalau cita-cita besar mereka
hanya membebaskan tanah air dari cengkraman penjajah dan mengembalikan
kehormatannya, maka itu hanyalah sepotong jalan dari cita-cita besar yang
diperjuangkan oleh Ikhwanul Muslimin. Karena setelah tahapan itu, kami masih harus
berjuang menegakkan bendara tanah air Islam setinggi-tingginya di setiap belahan
bumi. Agar bendera Al-Qur'an berkibar megah di seluruh penjuru dunia.

Kebangsaan
Berikutnya saya ingin mengemukakan kepada anda tentang sikap ikhwan
terhadap paham kebangsaan.
Kebangsaan Kejayaan
Jika yang dimaksud dengan kebangsaan oleh para tokohnya adalah bahwa
generasi penerus harus mengikuti jejak para pendahulunya dalam mencapai kejayaan,
kebesaran dan kecermerlangan; dan bahwa generasi penerus harus menjadikan para
pendahulunya sebagai panutan; dan bahwa kebesaran sang ayah merupakan kebanggaan
bagi anaknya, yang selalu mendorongnya untuk menikuti jejak sang ayah karena
hubungan darah; maka di sini kami pun sejalan dengan mereka. Bukankah bekal kami
dalam membangkitkan semangat –generasi sekarang– juga dengan mengingatkan
mereka kepada kebesaran para pendahulu (para nabi dan salafus shalih) ? Bahkan
substansi pemahaman seperti ini juga pernah diisyaratkan oleh Rasulullah saw dalam
sabdanya,
"Manusia itu seperti tambang. Yang terbaik di antara mereka dalam (pada masa)
Jahiliyyah adalah juga yang terbaik dalam (di masa) Islam, jika mereka memahami."
Sekarang anda dapat melihat betapa Islam sendiri tidak menentang paham
kebangsaan dalam maknanya yang agung ini.
Kebangsaan Umat
Jika yang dimaksud dengan kebangsaan adalah anggapan bahwa suatu kelompok
etnis atau sebuah komunitas masyarakat adalah pihak yang paling berhak memperoleh
kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil perjuangannya, maka di sini pun kami
bersepakat dengan mereka. Siapa gerangan yang tidak melihat bahwa orang yang paling
berhak memetik buah perjuangan adalah kaumnya sendiri di mana mereka tumbuh
dalam satu komunitas?
O, demi sungguh kabilah itu
Labuhan terbaik seseorang
Walau mereka merapatkannya
Pada setiap bahtera
Jika yang mereka maksudkan dengan Kebangsaan adalah bahwa setiap kita
dituntut untuk berjuang, di mana setiap kelompok harus mencapai tujuan dalam posisi
di mana saja ia berada, untuk kemudian dengan izin Allah bertemu di medan
kemenangan, maka sesungguhnya inilah pengelompokkan terbaik. Dan siapakah yang
dapat menjadikan bangsa-bangsa Timur sebagai pasukan-pasukan yang masing-masing
berjuang di medannya, sampai suatu saat kita semua bertemu di gelanggang kebebasan
dan kemerdekaan?
Semua makna positif –yang terkandung dalam paham Kebangsaan– ini adalah
makna-makna indah yang tidak diingkari oleh Islam. Itu pula yang menjadi tolok ukur
kami. Kami melapangkan dada untuk menerimanya, bahkan kami menganjurkannya.
Kebangsaan Jahiliyah
Tapi jika yang dimaksud dengan Kebangsaan adalah menghidupkan tradisi
Jahiliyah yang sudah lapuk; kembali ke masa lalu yang sebenarnya telah digantikan oleh
peradaban baru yang lebih mendatangkan maslahat; atau melepaskan Islam dari ikatanikatan
kesukuan secara ekstrim seperti yang dilakukan oleh beberapa Negara dengan
menghancurkan simbol-simbol Islam dan Arab, bahkan sampai kepada nama dan huruf
serta bahasanya; maka makna yang terkandung dalam Kebangsaan yang seperti ini
merupakan makna buruk, yang hanya akan menjerumuskan bangsa-bangsa Timur
kepada kebinasaan dan penderitaan panjang.
Keberadaannya akan menghilang-lenyapkan khazanah warisan sejarah mereka;
menjatuhkan martabat, dan menghilangkan bagian yang merupakan kunci keistimewaan
dan kehormatannya. Tentu saja itu tidak membahayakan barang sedikit pun bagi agama
Allah. Dia swt. berfirman,
"Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum
yang lain, dan mereka tidak seperti kamu (ini)." (Muhammad: 28)
Kebangsaan Permusuhan
Jika yang dimaksud dengan Kebangsaan itu adalah membangga-banggakan etnis
sampai pada tingkat melecehkan dan memusuhi etnis lain serta berjuang demi
eksistensinya sendiri –seperti yang pernah diserukan oleh Jerman dan Itali, dan bangsa
mana saja yang menganggap etnisnya atas segala-galanya– maka ini juga merupakan
makna yang buruk dan melecehkan nilai-nilai kemanusiaan. Pemaknaan seperti itu akan
menggiring masyarakat manusia kepada anarkhisme, untuk saling membunuh sesama
mereka hanya karena sebuah waham (pemikiran yang rancu), yang jauh dari hakekat
kebenaran.

Dua Pilar
Ikhwanul Muslimin tidak percaya pada Kebangsaan dalam makna-makna buruk
di atas (Kebangsaan Permusuhan dan kebangsaan jahiliyah). Kami tidak pernah
menyerukan ungkapan Fir'aunisme, Arabisme, Feniqisme, atau Siriaisme dan lain-lain
yang semacamnya. Tidak juga kepada semua nama dan gelar yang selama ini digemborgemborkan
orang. Kami hanya percaya kepada apa yang pernah diucapkan Rasulullah
saw., sang manusia sempurna dan guru terbaik yang mengajar manusia tentang
kebaikan,
"Sesungguhnya Allah telah menghilangkan fanatisme Jahiliyah serta
pengagungan mereka terhadap nenek moyang dari kalian. Manusia itu berasal dari
Adam, dan Adam itu berasal dari tanah. Tak ada keutamaan seorang Arab atas seorang
Ajam (selain Arab, edt.) kecuali dengan ketaqwaanya."
Alangkah indah dan adilnya ungkapan itu. Semua manusia berasal dari Adam
dan karenanya mereka semua sama dan sederajat. Yang membedakan mereka kemudian
adalah amalnya. Maka adalah wajib bagi setiap kita untuk berlomba-lomba dalam
kebaikan. Inilah dua pilar yang kalau saja kemanusiaan dibangun di atasnya niscaya ia
akan membawa manusia kepada ketinggian. Manusia itu dari Adam. Maka mereka
semua bersaudara dan karenanya wajib untuk saling tolong-menolong, berdamai dan
berkasih sayang serta saling menasehati dalam kebaikan. Adanya perbedaan di antara
mereka adalah atas dasar amal. Maka setiap mereka harus berusaha keras mengangkat
harkat kemanusiaan dalam posisi mana pun ia berada. Nah, pernahkah anda melihat
ketinggian kemanusiaan melebihi ketinggian ajaran ini; atau pendidikan yang lebih baik
dari pendidikan ini?
Keistimewaan Bangsa Arab
Namun demikian kami sama sekali tidak mengingkari adanya keistimewaan
tertentu yang melekat pada suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain.
Kami percaya bahwa setiap bangsa itu mempunyai sisi-sisi keistimewaan dan
keunggulan serta keutamaan. Kami juga percaya bahwa terdapat perbedaan tingkatan
antar masing-masing bangsa dalam hal itu. Dan kami yakin bahwa bangsa Arab
memiliki lebih banyak keistimewaan dibanding bangsa-bangsa lain. Tetapi ini bukan
alasan bagi bangsa Arab untuk memusuhi bangsa-bangsa lain. Sebaliknya,
keistimewaan itu harus digunakan untuk merealisasikan amanah yang dibebankan
kepada setiap bangsa.
Inilah makna kebangkitan kemanusiaan yang hakiki. Barang kali anda tidak akan
pernah menemukan sebuah bangsa dalam sejarah yang memahami makna ini melebihi
apa yang dipahami oleh pasukan Arab yang menyandang predikat sahabat-sahabat
Rasulullah saw. Ini merupakan tema yang membutuhkan pemaparan panjang. Saya tidak
ingin menjelaskan lebih jauh untuk menghindari penyimpangan pembahasan yang tidak
berguna. Saya ingin kembali kepada masalah pokok yang sedang kita bicarakan.

Ikatan Aqidah
Jika anda telah mengetahui ini, maka selanjutnya ketahuilah pula –semoga Allah
menguatkan anda– bahwa Ikhwanul Muslimin memandang manusia –dalam kaitannya
dengan sikap mereka terhadap fikrah Ikhwan– terbagi menjadi dua golongan.
Ada golongan manusia yang meyakini apa yang kami yakini. Yaitu beriman
kepada Allah dan kitab-Nya serta beriman kepada Rasulullah saw. Dengan segenap
ajaran yang dibawanya. Terhadap mereka itu kami diikat oleh sebuah ikatan yang suci
dan luhur, yakni ikatan aqidah.
Bagi kami ikatan ini jauh lebih suci dari ikatan darah dan tanah air mereka
adalah kaum yang paling dekat dengan kami, yang setiap saat kami rindukan dan
karenanya kami bekerja dan berjuang membela mereka, menebus kehormatan mereka
dengan darah dan harta, dibelahan bumi mana pun mereka berada dan dari keturunan
apa pun mereka berasal.
Ada lagi golongan manusia di mana ikatan aqidah tidak mengikat kami dengan
mereka. Namun kami tetap berdamai dengan mereka selama mereka berdamai dengan
kami. Kami menginginkan kebaikan bagi mereka selama mereka tidak memusuhi kami.
Kami percaya bahwa diatara kami tetap ada suatu ikatan, yaitu ikatan dakwah. Kami
harus mengajak mereka kepada missi yang kami emban, karena itu merupakan kebaikan
bagi seluruh manusia. Dan dalam melakukan dakwah, kami harus mengikuti metode
dan sarana yang telah dijelaskan oleh Islam sendiri. Maka siapa diantara mereka yang
mendzalimi kami, niscaya kami akan membalas kezhaliman mereka dengan seutamautamanya
cara untuk membalas kezhaliman orang-orang zalim. Jika anda ingin
mendengar itu dari Kitab Allah, maka dengarkanlah yang berikut ini,
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah
antara kedua saudaramu.” (Al-Hujurat: 10)
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orangorang
yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari
negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya
Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu
(orang lain) untuk mengusirmu. ” (Al-Mumtahanah : 8-9)
Saya berharap bahwa saya telah menyingkap sisi ini dalam dakwah kami dengan
jelas, dengan kejelasan apa yang tidak akan meninggalkan secuil pun kebingungan dan
ke-absurd-an dalam diri anda. Dan sekarang, saya berharap bahwa anda telah
mengetahui kepada siapa Ikhwanul Muslimin berpihak dan ke mana pula dia mengajak.

MENYIKAPI PERBEDAAN-PERBEDAAN MAZHAB
Sekarang saya ingin berbicara tentang sikap dakwah kami terhadap berbagai
perbedaan pemikiran keagamaan dan pendapat mazhab.

Berhimpun Bukan Berpecah-belah
Pertama kali, ketahuilah —semoga Allah memberimu kepahaman— bahwa
dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah yang bersifat umum, yang tidak berafiliasi
kepada golongan tertentu. Ikhwan juga tidak condong kepada pendapat tertentu yang
dikenal oleh orang banyak dengan warna dan karakternya yang beragam. Dakwah ini
lebih mengacu kepada substansi agama. Sebab yang kami inginkan adalah menyatukan
seluruh perhatian, pikiran dan potensi agar kerja kita lebih bermanfaat, tepat guna dan
menghasilkan sesuatu yang lebih besar.
Jadi, dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah yanag putih bersih, tak ada
warna tertentu yang mewarnainya. Kami senantiasa bersama kebenaran di mana pun ia
berada. Kami mencintai ijma' dan membenci keanehan.
Kami percaya bahwa musibah terbesar yang menimpa kaum Muslimin adalah
perpecahan. Sama seperti kami yakin bahwa apa yang membuat kaum Muslimin bisa
menang kembali adalah cinta kasih dan persatuan. Umat ini tidak akan pernah menjadi
baik kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya. Inilah prinsip
dasar dan sasaran penting yang harus diketahui oleh setiap muslim. Prinsip ini telah
menjadi aqidah yang menghunjam jauh ke dalam lubuk hati kami. Kami bertolak dari
prinsip ini dan akan senantiasa menyeru manusia kepadanya.

Perbedaan Itu Sesuatu Yang Niscaya
Di sisi lain kami sendiri percaya bahwa perbedaan dalam berbagai masalah furu'
(masalah cabang) merupakan sesuatu yang niscaya. Mustahil manusia bisa bersatu
dalam masalah-masalah tersebut, karena beberapa alasan sebagai berikut:
1. Perbedaan kapasitas intelektual dalam memahami dan menangkap kedalaman maknamakna
dalil serta dalam mengambil putusan hukum. Padahal agama ini bersumber
dari Al-Qur'an dan Hadits yang kemudian diinterpretasi oleh akal manusia
berdasarkan struktur bahasanya. Dan seperti yang secara umum kita tahu, terdapat
perbedaan kapasitas intelektual yang sangat bervariasi di kalangan manusia.
Sehingga perbedaan di antara mereka itu niscaya adanya.
2. Perbedaan dalam hal keluasan ilmu para ulama. Maka sangat mungkin ada suatu
hadits atau ilmu tertentu yang sampai kepada beberapa ulama tertentu dan belum
sampai kepada ulama yang lain. Begitu seterusnya, sehingga Imam Malik berkata
kepada Abu Ja'far, "Sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw. telah mendatangi
berbagai kota, dan setiap kaum itu memiliki ilmu tertentu. Maka jika seseorang ingin
menggiring mereka kepada satu pendapat, niscaya upaya itu hanya akan
menimbulkan fitnah."
3. Perbedaan lingkungan yang antara lain menyebabkan terjadinya perbedaan dalam
pola penerapan hukum. Itulah sebabnya Imam Syafi'i memberikan fatwa lama (qaul
qadim) di Irak kemudian memunculkan fatwa baru (qaul jadid) ketika beliau berada
di Mesir. Yang beliau lakukan dalam hal ini tidak lebih dari memutuskan hukum
berdasarkan dalil yang paling kuat menurut beliau. Di samping itu beliau mencoba
memilih yang paling tepat dan maslahat sesuai dengan kondisi kedua kota itu.
4. Perbedaan tingkat ketenangan hati dalam menerima suatu riwayat. Maka terkadang
anda melihat perawi tertentu dianggap 'tsiqah' oleh imam fulan —dan karenanya
anda pun menerimanya— sementara tidak demikian menurut imam yang lain, karena
informasi tertentu yang mungkin tidak diketahui oleh yang pertama.
5. Perbedaan dalam menentukan tingkat kekuatan dalil kepada hukum tertentu. Maka
mungkin ada ulama yang mendahulukan perbuatan sahabat atas Khabar Ahad (hadits
yang diriwayatkan oleh satu orang), sementara yang lain tidak melihatnya demikian.

Ijma' Dalam Masalah Furu Itu Mustahil
Ini semua membuat kami yakin bahwa mengharapkan adanya ijma' dalam
masalah furu' adalah suatu kemustahilan. Bahkan bertentangan dengan tabiat agama
(dan kemanusiaan itu sendiri). Allah menghendaki aktualitas agama ini abadi dan dapat
menyertai semua zaman. Inilah rahasia mengapa agama Islam ditata sedemikian rupa
oleh Allah sehingga mudah, fleksibel, bebas dari kebekuan dan ekstrimisme.
Maaf Kami Kepada Semua Penentang Kami
Kami meyakini prinsip ini. Dan karenanya kami memohon maaf kepada mereka
yang berbeda dengan kami dalam berbagai masalah furu'. Kami sama sekali tidak
melihat bahwa perbedaan itu akan menghambat proses menyatunya hati, saling
mencintai dan kerja sama dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan. Islam yang
universal ini akan sanggup memayungi kami dengan mereka dalam batasan-batasannya
yang begitu luas. Bukankah kami Muslim dan mereka pun demikian juga? Bukankah
kami suka bertahkim kepada sesuatu yang hati kami tenang kepadanya sebagaimana
juga mereka? Bukankah kami dituntut untuk mencintai bagi saudara kami apa yang
kami cinta bagi diri kami sendiri?
Lantas, mengapa masih harus ada perpecahan? Mengapa pendapat kami tidak
dijadikan bahasan oleh mareka sama seperti kami terhadap pendapat mereka? Mengapa
kita tidak berusaha untuk saling memahami dalam suasana penuh cinta, jika ada banyak
alasan yang mengharuskan untuk itu? Para sahabat Rasulullah saw. juga sering berbeda
dalam memutuskan hukum. Tapi adakah itu kemudian memecah-belah hati mereka?
Sama sekali tidak. Dan saya kira hadits tentang shalat Ashar di Bani Quraidhah masih
segar dalam ingatan kita.
Jika para sahabat saja —yang lebih dekat dengan zaman kenabian dan lebih tahu
tentang seluk beluk hukum— masih juga berbeda pendapat, mengapa kita harus saling
membunuh untuk suatu perbedaan dalam masalah-masalah sepele? Jika para imam saja,
yang lebih tahu tentang Al-Qur'an dan Sunah, juga masih saling berbeda pendapat dan
berdebat, mengapa dada kita tidak selapang mereka dalam mensikapi perbedaan? Jika
perbedaan pendapat itu bisa terjadi dalam beberapa masalah yang sangat populer,
seperti azan yang dikumandangkan lima kali sehari dengan dalil-dalil naqli yang sudah
jelas, bukankah dalam masalah yang lebih rumit yang dalilnya lebih banyak disandarkan
kepada akal, akan lebih terbuka kemungkinan untuk itu?
Selain itu juga ada sisi penting yang harus direnungkan di sini. Dulu, jika kaum
Muslimin berbeda pendapat, mereka segera bertahkim kepada khalifah yang memang
disyaratkan berkualitas sebagai imam (pemimpin). Khalifah itu selanjutnya
memutuskan perkara mereka dan menyelesaikan perbedaan tersebut. Tapi sekarang, di
mana bisa kita jumpai khalifah itu? Nah, kalau demikian, yang harus dilakukan oleh
kaum Muslimin adalah mengajukan perbedaan-perbedaan mereka kepada Qadhi yang
selanjutnya akan menyelesaikannya. Perbedaan tanpa referensi yang jelas hanya akan
menimbulkan perbedaan berikutnya.
Pernik-pernik ini disadari dengan baik oleh Ikhwanul Muslimin. Kesadaran
itulah yang membuat dada mereka lebih lapang dalam menghadapi berbagai perbedaan
pendapat. Mereka percaya bahwa setiap kaum itu memiliki ilmu, dan bahwa pada setiap
dakwah itu ada sisi benarnya dan ada sisi salahnya. Maka mereka selalu mencari sisi
yang benar dan berusaha menyampaikan kepada orang lain secara persuasif. Bila
kemudian mereka menerima, maka itulah yang lebih baik, dan itu pula yang kami
harapkan. Adapun jika ternyata mereka menolak, sesungguhnya mereka tetap kami
anggap sebagai saudara seagama. Kami berharap semoga Allah memberikan hidayah
kepada kita semua.
Itulah konsep dasar yang diyakini oleh Ikhwanul Mulimin dalam menyikapi
berbagai perbedaan pendapat dalam masalah furu'. Barangkali sikap itu dapat
disimpulkan secara sederhana, bahwa Ikhwanul Muslimin membolehkan adanya
perbedaan dan membenci sikap fanatisme terhadap pendapat sendiri, serta senantiasa
berusaha menemukan kebenaran, kemudian membawa masyarakat kepada kebenaran itu
dengan cara yang baik dan sikap yang lemah-lembut.

MENUJU SOLUSI
Saudaraku, ketahuilah bahwa kekuatan dan kelemahan, keremajaan dan ketuaan
suatu bangsa, adalah sama dengan kekuatan dan kelemahan, keremajaan dan ketuaan
seseorang. Ada saat di mana sesorang tampil sebagai sosok individu yang sehat segar,
tapi kemudian tiba-tiba saja orang itu mendapati dirinya tergeletak lemah di atas tempat
tidur, digerogoti oleh berbagai penyakit. la akan terus mengeluh kesakitan hingga Allah
merahmatinya dengan mendatangkan seorang dokter yang cerdas, yang mengetahui
letak penyakit dan sebab-sebabnya serta mengetahui obat yang tepat untuk penyakit itu.
Dan sebentar kemudian, anda menyaksikan orang itu telah kembali sehat wal afiat dan
segar bugar. Bahkan mungkin kekuatannya kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Yang demikian itu bisa menimpa suatu umat atau bangsa. Sejumlah peristiwa
dalam suatu potongan zaman terkadang bagai virus yang menggerogoti kekuatan dan
kesehatannya. Itu akan terus berlangsung sampai kekuatannya benar-benar rapuh, dan
sesaat kemudian tiba-tiba saja ia tampak lusuh dan kuyu. Kondisi itu kemudian telah
melahirkan keserakahan bangsa-bangsa lain untuk memangsanya, sementara ia sendiri
tidak lagi punya secuil pun kekuatan untuk mempertahankan diri dari berbagai bentuk
serangan dan invasi dari luar.
Umat yang berada dalam kondisi seperti itu hanya bisa sembuh dengan adanya
tiga hal; mengetahui letak penyakit, sabar dalam menjalani tuntutan pengobatan, dan
adanya dokter yang melakukan pengobatan itu, hingga Allah berkenan
menyembuhkannya dengan sempurna.

Sebuah Gejala
Pengalaman dan rentetan peristiwa telah mengajarkan kepada kita bahwa
penyakit yang menggerogoti kehidupan bangsa-bangsa Timur ternyata begitu beragam.
Secara politik mereka terjajah oleh musuh-musuhnya, sementara rakyatnya terpecahbelah
dalam intrik-intrik kepartaian. Dalam bidang ekonomi sistem riba merajalela,
perusahaan-perusahaan asing menguasai hampir seluruh sektor ekonomi dan
mengeksploitasi sumber daya alamnya. Dalam bidang pemikiran, berbagai isme telah
merancukan ideologi, aqidah, kesadaran, dan pola pikir putera-putera bangsanya.
Dalam bidang sosial dekadensi moral dan hedonisme telah mencabut akar
keluhuran budi pekerti dan rasa kemanusiaan yang mereka warisi dari pendahulupendahulu
mereka. Sementara demam kebarat-baratan telah merubah gaya hidup dalam
semua sisinya secara begitu cepat, secepat aliran bisa ular yang menjalar ke seluruh
tubuh melalui pembuluh darah, dan akhirnya mengeruhkan ketenangannya. Dalam
bidang yang sama, mereka dikuasai oleh perundang-undangan bumi (buatan manusia)
yang belum pernah terbukti mampu menghentikan langkah-langkah congkak para
kriminalis, mencegah kezhaliman, dan —di atas itu semua— takkan pernah sanggup
mengungguli perundang-undangan langit yang telah diletakkan oleh Sang Maha
Pencipta, Raja di raja dan Pemilik semua jiwa manusia.
Dalam bidang pendidikan, bangsa-bangsa Timur dililit oleh sistem pendidikan
barat yang terbukti telah gagal membangun generasi penerus yang akan mengemban
amanah kebangkitan di masa datang. Selanjutnya, dalam bidang kejiwaan ia telah
dijangkiti oleh keputusasaan yang membinasakan, kemalasan dan apatisme,
kepengecutan dan kerendahdirian, sikap tidak jantan, egoisme, dan kebakhilan, yang
semua itu telah berhasil mengikis semangat berkorban dan menyeret umat Islam keluar
dari barisan para mujahidin menuju barisan orang-orang yang lengah dan lalai.
Apakah yang bisa diharap dari sebuah umat yang telah digerogoti oleh berbagai
penyakit ganas dalam semua aspek kehidupannya ini? Ada penjajahan dan perpecahan
antar golongan didalamnya, ada rente dan dominasi perusahaan asing, ada atheisme dan
hedonisme, ada kebobrokan sistem pendidikan dan hukum, ada keputusasaan, apatisme,
kebakhilan, egoisme, kebancian dan kepengecutan, ada kekaguman berlebihan terhadap
musuh yang telah membuat mereka meniru apa saja yang dilakukan oleh musuhnya,
terutama perilaku-perilaku menyimpang, dan masih banyak lagi gejala memprihatinkan
yang lain.
Padahal satu saja dari penyakit di atas sudah cukup untuk membunuh sebuah
umat yang kuat. Lantas bagaimana pula jika semua penyakit itu menyatu dan
menjangkiti tubuh umat ini? Kalau bukan karena kekuatan, immunitas dan ketegaran
bangsa-bangsa Timur —yang dililit oleh musuh-musuhnya dengan tali kuat dalam
tempo begitu panjang, di mana setiap saat mereka menebar racun di sepanjang tali dan
sepanjang tempo itu, hingga bakteri-bakteri itu beranak pinak— tentulah penyakitpenyakit
itu akan memborok dan membusuk, untuk kemudian membinasakannya dan
melenyapkannya dari mayapada. Tetapi Allah berkehendak lain; orang-orang beriman
tak akan pernah melihat hal itu menjadi kenyataan.
Saudaraku, inilah diagnosa Ikhwanul Muslimin atas penyakit-penyakit yang
tengah menggerogoti umat kita. Dan apa yang tengah kami lakukan adalah upaya
mengembalikan kesehatan dan kekuatan umat yang telah lama hilang.

Harapan dan Perasaan
Saudaraku, sebelum saya berbicara tentang sarana yang akan kami gunakan
dalam mencapai tujuan dalam dakwah ini, saya ingin anda tahu bahwa kami benarbenar
tidak putus asa terhadap diri kami. Bahkan kami berharap akan memberi banyak
kebaikan. Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan
hanyalah keputusasaan. Jika harapan itu kuat dalam diri kita maka dengan izin Allah
kita akan mencapai banyak kebaikan. Itulah sebabnya kami tidak pernah putus asa, dan
keputusasaan takkan pernah sanggup merasuki hati kami. Segala puji bagi Allah untuk
keyakinan kami itu.
Walaupun banyak orang yang pesimis, kami tetap percaya bahwa semua yang
ada di sekeliling kita memberi isyarat kegembiraan. Bila anda menjenguk seseorang
yang sedang sakit, lalu anda menemukan bahwa perlahan bicaranya berubah jadi diam,
geraknya perlahan terhenti, anda akan merasa kondisinya makin memburuk dan akhir
hidupnya tak kan lama lagi. Tapi sebaliknya jika dari diam ia mulai bicara, geraknya
tampak makin lincah, anda tentu yakin orang itu sudah mendekati kesembuhannya. Ada
suatu masa di mana bangsa-bangsa Timur digerogoti oleh kejumudan, sampai kemudian
membeku dan kebekuan itu sendiri merasa bosan; atau dilanda oleh kemandegan,
sampai kemandegan itu benci padanya. Tapi kini ia telah terbangun dan menggeliat
dalam semua sisi kehidupan dengan semangat membara penuh gelora. Kalau bukan
karena beratnya beban di satu sisi dan rancunya kepemimpinan di sisi lain, tentulah
kebangunan akan memberi pengaruh yang sangat kuat lagi indah.
Tapi belenggu itu tak selamanya jadi belenggu. Zaman akan berputar, dan dalam
sekejap mata dari jenak kebangunannya Allah akan mengubah suatu kenyataan menjadi
kenyataan yang lain. Orang yang sesat takkan selamanya sesat, sebab setelah kesesatan
itu selalu ada petunjuk, setelah kekacauan itu selalu ada ketenteraman. Hanya di tangan
Allah —sebelum dan sesudah itu semua— segala urusan ditentukan.
Itulah sebabnya, kami tak pernah mau pesimis. Ayat-ayat Allah dan hadits-hadits
Rasulullah saw. tentang pendidikan dan pembangunan umat menjelang kehancurannya,
kisah-kisah kehancuran dan kebangunan umat-umat terdahulu yang banyak tertera
dalamnya, semua itu telah mengajak kami untuk senantiasa memiliki harapan yang
besar, dan menunjukkan kepada kami jalan lurus menuju kebangkitan. Andaikan kaum
Muslimin mau mempelajari hakekat ini, tentulah mereka dapat memahaminya. Lihatlah
—misalnya— firman Allah swt. berikut ini,
"Thaa Siin Miim. Ini adalah ayat-ayat Kitab (AI-Qur'an) yang nyata (dari
Allah). Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun
dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fir'aun telah
berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya
berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih
anak-anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan
Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi
(Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman
beserta tentara-tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka
itu." (AI-Qashash: 1-6).
Jika anda membaca ayat tersebut dengan seksama, anda akan melihat bagaimana
kebatilan merajai segala sesuatu. Mereka begitu pongah dengan kekuatannya serta
merasa aman dengan kezhalimannya. Mereka lupa, bahwa mata kebenaran setiap saat
mengintainya. Hingga ketika ia mulai terlena oleh kemapanannya, Allah pun merebut
kembali semua itu dengan gagah perkasa. Dengan kehendak-Nya la akan memenangkan
orang-orang yang tertindas; lalu seketika itu juga, fondasi kebatilan akan runtuh, dan
kebenaran segera tertegak gagah dengan pilar-pilarnya yang perkasa. Para pendukung
kebenaran saat itu tampil sebagai pemenang. Setelah ayat-ayat semacam ini, takkan ada
lagi alasan untuk pesimis dan putus asa bagi umat Islam yang percaya kepada Allah dan
Kitab-Nya. Kapankah gerangan kaum Muslimin dapat memahami Kitab Allah ini secara
benar?
Saudaraku, karena hal-hal semacam inilah Ikhwanul Muslimin tidak pernah
pesimis dan putus asa dari mengharap pertolongan Allah, betapa pun banyaknya
rintangan. Dan dengan berbekal harapan itulah mereka bekerja dengan penuh
kesungguhan. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Tentang modal dasar untuk pencapaian tujuan —sebagaimana yang saya katakan
sebelumnya—, maka ada tiga hal, di atas mana pemikiran Ikhwanul Muslimin itu
berpusat:
Pertama; Manhaj yang benar. Manhaj itu telah ditemukan oleh Ikhwanul
Muslimin dalam Al-Qur'an, Sunah dan hukum-hukum Islam ketika ia pertama kali
dipahami oleh kaum Muslimin dengan bersih, segar, dan jauh dari berbagai penetrasi
paham-paham lain. Atas dasar itulah mereka mempelajari Islam dengan mudah, luas,
dan mencakup segala aspek kehidupan.
Kedua; Pendukung yang beriman. Itulah sebabnya Ikhwanul Muslimin selalu
berusaha menerapkan Islam yang telah mereka ketahui untuk diri mereka, dengan penuh
kesungguhan, dan penuh keseriusan. Alhamdulillah, mereka selalu yakin dengan pikiran
mereka, tenang dengan tujuan mereka, percaya pada pertolongan Allah atas mereka
selama mereka berbuat untuk-Nya dan atas dasar petunjuk Rasul-Nya saw.
Ketiga; Pemimpin yang kuat dan terpercaya. Ini pun telah ditemukan oleh
Ikhwanul Muslimin. Maka mereka selalu taat kepada pemimpin mereka, dan di bawah
bendera pemimpin itu mereka bekerja.
Saudaraku, itulah gambaran umum tentang dakwah kami yang ingin saya
sampaikan kepadamu. Itu adalah ungkapan yang sarat dengan makna. Dan saya yakin
andalah Yusuf dari mimpi-mimpi ini. Jika anda setuju dengan kami, maka marilah kita
saling berjabatan tangan dan berjanji setia untuk bekerja bersama di jalan ini. Biarlah
Allah Yang akan memberikan —kepada kami dan kamu sekalian— petunjuk-Nya. Dan
cukuplah Dia bagi kami. Dialah sebaik-baik tempat bergantung, sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong.
Allah Maha Besar,
Bagi Allah segala puji. (HASAN AL BANA)

0 komentar:

Posting Komentar